This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 21 April 2014

Berbuat Kebaikan

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar [39]: 10). Salah satu rahasia Allah yang diungkapkan dalam Alqur’an adalah bahwa seseorang yang beramal shaleh akan diberikan balasan yang baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagimana telah Allah siratkan dalam ayat di atas. Sekalipun demikian, kita sebagai manusia yang mempunyai pikiran, perasaan dan kemauan perlu mengetahui apakah sesunnguhnya arti dari kebaikan itu. Definisi dari kebaikan sendiri begitu beragam, setiap individu mbahkan kultur yang berbeda mempunyai definisi tersendiri tentang kebaikan. Hal yang lazim, ketika mendengar kata ‘kebaikan’, hal pertama yang terlintas di benak kita adalah berperilaku menyenangkan, memberi uang kepada orang miskin, atau berperilaku toleran terhadap setiap jenis perbuatan, dan semacamnya. Perilaku-perilaku seperti itu sering dianggap sebagai sebuah tanda atau indikasi “kebaikan” dalam konsensus masyarakat. Kebaikan sejati sebenarnya telah Allah beritahukan dalam Alqur’an. Sebagaimana firman-Nya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, para malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177). Seperti diterangkan kepada kita melalui ayat di atas, esensi dari kebaikan yang sesungguhnya adalah takut kepada Allah, tetap selalu mengingat hari pembalasan, mengikuti hati nurani dan selalu melakukan perbuatan yang diridhai oleh Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi, Rasulullah SAW juga mengajak orang yang beriman untuk selalu takut kepada Allah dan berbuat baik. Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah kepada Allah dimanapun kamu berada. Lakukanlah kebaikan sesegega mungkin setelah berbuat dosa untuk menghapuskan dosa itu, dan selalu berbuat baiklah dalam hubunganmu dengan manusia” (H.R. Tarmidzi). Allah juga telah mewahyukan dalam Alqur’an bahwa Ia mencintai orang yang selalu berfikiran baik dan berbuat baik kerena keimanan mereka dan rasa takut serta cinta mereka kepada Allah. Allah juga menambahkan janji-Nya bahwa Ia juga akan membalas mereka dengan kebaikan: …orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan Itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (Q.S. An-Nahl [16]: 30). Allah memberikan kepada orang-orang seperti ini kabar gembira tentang hidup bahagia, baik di dunia yang sementara ini maupun di akhirat kelak yang kekal abadi, dan peningkatan berkah, baik jasmani maupun rohani. Di dalam Alqur’an beberapa contoh telah Allah berikan kepada kita. Nabi Sulaiman a.s., seorang yang shaleh dan taqwa diberikan oleh Allah seluruh kerajaan di dunia yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun sebelumnya, dan Nabi Yusuf, diberikan kewenangan sepenuhnya untuk mengurus perbendaharaan kota Mesir serta kemampuan untuk mentakwilkan mimpi. Allah memberitahu kita tentang berkah yang Ia karuniakan kepada Nabi Muhammad SAW dalam sebuah ayat: Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan. (Q.S. Ad-Dhuhaa [93]: 8). Kita perlu ingat bahwa kehidupan yang indah dan bahagia bukanlah berkah yang dikaruniakan hanya kepada generasi orang yang beriman pada zaman dahulu saja. Allah SWT menjanjikan bahwa di setiap zaman, Ia akan memberi hamba-Nya yang beriman kehidupan yang baik. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan (Q.S. An-Nahl [16]: 97). Allah menegaskan dalam sebuah ayat bahwa orang beriman telah menjual kehidupan mereka dan kekayaan mereka untuk memperoleh surga. Orang-orang yang berhijrah pada masa Rasulullah adalah contoh. Mereka hijrah ke kota lain, meninggalkan rumah-rumah, tempat tinggal, perniagaan, hak milik, dan kebun-kebun di belakang mereka. Di kota tujuan, mereka puas dengan harta yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan ridha dari Allah semata. Kepuasan dan keikhlasan mereka dalam mengingat akhirat memberi mereka berkah dan kehidupan serta karunia yang baik dari Allah SWT. Dia juga menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan memiliki akhlak yang tinggi. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) (Q.S. Al-An’am [6]: 160); Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 40). Tanda yang paling nyata bahwa Allah menggandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Kehidupan di dunia adalah masa yang sangat pendek, yang berakhir rata-rata selama 60 tahun. Meskipun demikian, orang yang menyucikan dirinya dan melakukan perbuatan baik di dunia ini akan diberikan balasan kebaikan yang tidak terbatas di akhirat sebagai balasan untuk apa yang telah mereka lakukan selama kehidupan yang pendek ini. Allah SWT telah menjanjikan hal ini dalam sebuah ayat berikut: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan [687]. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Yunus : 26). Wallahu A’lam.


Berbagi: facebook
Berbagi: twitter

      Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Facebook: Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Twitter:    : Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Email       : Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi

Halaman: Tips Kesehatan
              :Arti Kehidupan 

Grup:       Forum Silaturahmi "NURUL HIKMAH" 

Kisah tentang seorang laki-laki shalih yang pencaharian sehari-harinya menenun benang

kisah tentang seorang laki-laki shalih yang pencaharian sehari-harinya menenun benang yang kemudian ia jual ke pasar dengan harga satu dirham. Suatu hari, selepas ia menjual hasil tenunannya, pulanglah ia dengan penuh rasa syukur. Ia membayangkan hari ini bisa membeli makanan untuk keluarganya. Namun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang kelihatan sangat menderita. Tanpa pikir panjang ia pun merogoh sakunya dan memberikan uang 1 dirham (satu-satunya uang yang ia miliki) kepada pengemis tadi. Sesampainya di rumah, ia pun bercerita kepada istrinya tentang uang 1 dirham hasil jerih payah tenunan mereka. Dan, subhaanallaah…, sang istri menyambutnya dengan senyum, tanda ia ridha dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Namun karena di rumah tidak ada makanan (juga uang), maka sang istri mengumpulkan beberapa alat dapur bekas, yang kemudian ia serahkan kepada suaminya untuk dijual. Saat itu juga sang suami berangkat kembali ke pasar, namun sampai pasar sepi, tidak ada satu orang pun yang membeli barang (bekas) dagangannya. Hampir ia memutuskan pulang, namun ia melihat seorang pedagang ikan yang sepertinya bernasib sama dengan dirinya, tidak laku. Akhirnya terbetiklah pikiran untuk menukar alat-alat dapur dagangannya dengan ikan yang dijual temannya. Gayung bersambut, pedagang ikan setuju. Jadilah ia pulang dengan membawa ikan yang cukup. Sesampainya di rumah ia serahkan ikan-ikan tadi kepada istrinya. Beberapa saat kemudian, ia mendengar jeritan istrinya. Saat ia mendatangi istrinya, ia menemukan istrinya sedang menimang sebuah batu mulia yang ia dapatkan dari salah satu perut ikan yang ia belah. Ketika batu tadi ditawarkan kepada beberapa pedagang batu mulia yang dikenal, ternyata ada yang berani membelinya dengan harga 120 ribu dirham. Ia pun segera pulang dengan membawa 12 karung uang, yang masing-masing berisi 10 ribu dirham. Sesampainya dirumah, ternyata ia sudah ditunggu oleh seorang pengemis. Dengan mantap, laki-laki shalih tadi mempersilakan pengemis untuk mengambil uang tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik ini, si pengemis pun mengambil 6 karung kemudian membawanya pergi. Namun tak lama kemudian ia kembali ke rumah laki-laki shalih. “Ada apa saudaraku ?” Sapa sang laki-laki shalih. “Saya datang untuk mengembalikan kembali uang-uang ini.” Jawab pengemis. “Kenapa ?” “Karena saya datang hanya sekedar diutus untuk mengujimu dan memberi-tahukan kepadamu kalau Alloh sangat senang dengan sadaqah 1 dirhammu, Dia telah menyiapkan 20 qirath balasan untukmu. Dan uang yang kau terima adalah balasan 1 qirath dari 20 qirath yang ada. Masih ada 19 qirath lagi yang disimpan Allah Subhanallah… “Tiadalah seorang manusia berbuat baik, kecuali kebaikan tersebut akan kembali kepada pelakunya.” (Kalam Hikmah)


Berbagi: facebook
Berbagi: twitter

      Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Facebook: Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Twitter:    : Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi
Email       : Mohammad Taufiq Karangjati Ngawi

Halaman: Tips Kesehatan
              :Arti Kehidupan 

Grup:       Forum Silaturahmi "NURUL HIKMAH"